gambarPGRI DIY

Guru Perempuan Berdaya dari Memimpin hingga Menggandeng AI

17 Oktober 2026 - Kategori berita, Post
17 views
Guru Perempuan Berdaya dari Memimpin hingga Menggandeng AI

Guru Perempuan Berdaya dari Memimpin hingga Menggandeng AI


YOGYAKARTA, PGRI DIY – Sabtu (17/10/2026) – Sebelum jabatan, ada tindakan. Pesan itu mengawali PGRI DIY Power bertema “Perempuan Berdaya AI” di Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) Kota Yogyakarta, Jalan Kapas No. 9. Dalam rangkaian acara pukul 08.00 hingga 12.00 WIB, 150 guru perempuan dari jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, hingga sekolah luar biasa diajak memandang diri sebagai pemimpin, menimbang akar budaya dalam mendidik anak, dan menjajal kecerdasan buatan (AI) sebagai teman kerja.

Kegiatan yang diselenggarakan Biro Pemberdayaan Perempuan bersama Biro Penelitian dan Pengabdian Masyarakat PGRI Provinsi DIY itu menghadirkan tiga narasumber. Materinya kepemimpinan guru perempuan, implementasi AI dalam pembelajaran, dan implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) di sekolah. Di bawah semboyan “Belajar, Berkarya, Berdampak”, ketiganya saling menyambung.

Narasumber pertama, Dr. Saptaningsih Sumarmi, M.M., membuka materi dengan pertanyaan yang dekat dengan keseharian guru. Siapa yang pernah menjadi wali kelas, memimpin rapat, membimbing siswa, menyelesaikan konflik, atau menjadi tempat curhat rekan kerja? Peserta diminta mengangkat tangan untuk tindakan seperti membimbing guru baru atau menggerakkan kegiatan sekolah. Dari situ ia menegaskan bahwa banyak tindakan kepemimpinan terjadi sebelum seseorang memegang jabatan formal. Kepemimpinan, menurut dia, bukan semata soal posisi, melainkan juga karakter, perilaku, pengaruh, dan hubungan. Jabatan memberi mandat, tetapi mentor atau penggerak literasi tanpa jabatan struktural pun dapat memimpin lewat keahlian dan teladan.

Saptaningsih tidak menutup mata pada hambatan. Merujuk Laporan GEM UNESCO 2025, ia menyebut visibilitas perempuan dalam kepemimpinan pendidikan cenderung menurun pada jenjang yang lebih tinggi, kecuali pendidikan anak usia dini. Ia mengingatkan agar angka global tak serta-merta disamakan dengan Indonesia. Soal gaya memimpin, meta-analisis Eagly dan kawan-kawan (2003) atas 45 studi menemukan perempuan sedikit lebih sering menunjukkan perilaku kepemimpinan transformasional. Perbedaannya kecil dan tidak bisa menjadi aturan bagi individu. Sebagai pegangan, ia menawarkan model PEMIMPIN, yakni percaya diri, empatik, menginspirasi, memberdayakan, profesional, integritas, networking, dan inovatif. Model itu ia letakkan dalam perjalanan memimpin diri, memimpin orang, lalu memimpin perubahan, yang menurutnya bukan tangga jabatan. Ia menutup dengan ajakan agar perempuan saling membuka jalan lewat bimbingan, rekomendasi, dan berbagi ruang memimpin.

Sesi kedua beralih ke alat yang kini ada di tangan guru. M. Fairuzabadi, S.Si., M.Kom., dari Program Studi Informatika Universitas PGRI Yogyakarta, memulai dari keseharian guru yang sarat pekerjaan berulang, seperti menyiapkan materi, menyusun soal, mengoreksi tugas, dan mengurus administrasi, yang kerap dikerjakan di luar jam mengajar. AI, katanya, hadir sebagai asisten, bukan pengganti. “AI menghasilkan alternatif, guru yang memilih dan memutuskan.” Agar hasilnya tepat, perintah kepada AI perlu memuat peran, tugas, konteks, dan format. Perintah semacam “Buat soal ekosistem” terlalu umum. Hasilnya berbeda jika guru menyebut jenjang kelas, jumlah soal, konteks Yogyakarta, dan bentuk tabel berisi level, soal, kunci, dan alasan. Perintah pertama pun hanya awal diskusi, sebab hasil terbaik lahir dari siklus draf, kritik, revisi, dan verifikasi.

Dengan contoh ekosistem sawah, ia memperlihatkan lima pemanfaatan AI: materi ajar, aktivitas kelas, diferensiasi, asesmen, dan umpan balik. AI dapat menjadi fasilitator diskusi yang bertanya satu per satu agar siswa berpikir sendiri, atau pemandu permainan misi bertingkat. Ia juga mengajak guru menaikkan level, dari memakai AI sebagai pembuat konten menjadi mitra berpikir yang diminta menemukan kelemahan rancangan pembelajaran, atau membayangkan kelas gagal lalu mencari penyebabnya sebelum hari pelaksanaan. Batasannya ia tegaskan. AI bisa keliru atau mengarang informasi, sehingga fakta dan sumber harus diperiksa, dan data pribadi siswa seperti nama lengkap, NISN, serta alamat tak boleh diunggah. “Cepat bukan berarti selalu benar,” ujarnya. Prinsipnya, AI menghasilkan, guru memeriksa, guru memutuskan.

Materi ketiga membawa peserta pulang ke akar budaya. Drs. Totok Sudarto, M.Pd., yang juga Ketua PGRI Kabupaten Bantul dan berkiprah di Dewan Pendidikan DIY, membahas penerapan PKJ di sekolah lewat unggah-ungguh anak. Ia memulai dari gagasan kecerdasan komprehensif. Olah qalbu melahirkan ketakwaan, olah rasa melahirkan sopan santun, olah pikir untuk kepandaian, olah raga untuk kebugaran, ditambah kemampuan mengatasi masalah, dan semuanya bermuara pada manusia unggul. Peran guru di sini menentukan. Merujuk penelitian Prof. John Hattie dari Universitas Auckland, ia menyebut guru sebagai faktor terbesar dalam sistem pendidikan yang memengaruhi capaian murid.

Semua itu, kata Totok, bertumpu pada cita-cita Hamemayu Hayuning Bawana, yakni keselarasan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Cita-cita itu diwujudkan lewat sikap dan tutur yang santun, dari ngajeni dan ngapurancang hingga ucapan nuwun sewu, matur nuwun, nyuwun pangapunten, mangga, dan injih. Ia mengingatkan pula landasan Bahasa Jawa sebagai muatan lokal wajib di DIY, yang antara lain bertujuan agar peserta didik berkomunikasi sesuai etika, bangga pada identitas daerah, dan memperhalus budi pekerti. Ia mengutip pepatah Jawa: siapa yang ingin luhur harus mau menghormati.

Meski topiknya berbeda, ketiga materi bertemu pada satu titik: guru yang berkarakter, berdaya, dan terus belajar. Kepemimpinan menuntut karakter, unggah-ungguh menumbuhkannya sejak dini, dan AI menjadi alat yang tetap bergantung pada pertimbangan guru. Fairuzabadi menegaskan, AI tidak menggantikan guru, tetapi memperkuat guru yang terus belajar, berpikir, dan bertumbuh.


Lebih lanjut, materi dapat diunduh melalui tautan berikut ini: https://bit.ly/47rFFMb


Footer Image

Jln. Tentara Rakyat Mataram, Badran JT 1/704, Bumijo, Jetis, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta 55231 Telp/HP: (0274) 548838

Badan Usaha Milik PGRI DIY

Logo CV Widyatama Mulya
Instagram IconYoutube Icon

Hak Cipta © 2026 Persatuan Guru Republik Indonesia DIY