gambarPGRI DIY

RUMAH BAGI PARA PENDIDIK

5 Oktober 2026 - Kategori berita, Post
12 views
RUMAH BAGI PARA PENDIDIK

Jejak Wisma Guru Yogyakarta

Tulisan dokumenter sejarah peresmian 25 November 1996

Edy Thomas Suharta, S.Pd, SH, M,Pd / LKBH PGRI DIY 


Begitu melangkah masuk ke lobi bangunan yang kini akrab disebut Gedung Guru, pandangan akan tertumbuk pada sebuah pelat marmer putih yang tertanam di dinding. Huruf-hurufnya keemasan dan bergaris tepi halus, memberi tahu bahwa Wisma Guru Yogyakarta “diresmikan penggunaannya pada tanggal 25 Nopember 1996”, dengan ejaan khas zamannya. Di bawah tulisan itu terbubuh sebuah tanda tangan, lalu nama Sri Sultan Hamengku Buwono X. Banyak orang mungkin melewatinya sambil lalu, padahal tanggal itu terasa istimewa. Setiap 25 November Indonesia memperingati Hari Guru Nasional. Dasar hukumnya adalah Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, yang ditetapkan Presiden Soeharto di Jakarta pada 24 November 1994. Tanggal 25 November dipilih karena bertepatan dengan hari lahir PGRI pada 1945, ketika Kongres Guru Indonesia berlangsung di Surakarta. Artinya, Wisma Guru diresmikan hanya dua tahun setelah negara menetapkan hari khusus bagi para guru, dan tepat pada hari itu. Apakah kesamaan tanggal itu disengaja atau kebetulan belum bisa dipastikan dari arsip yang ada, tetapi maknanya sulit diabaikan: sebuah rumah untuk guru dibuka pada hari milik guru.

Gambar 1. Prasasti peresmian Wisma Guru Yogyakarta di dinding lobi masuk Gedung Guru.

Prasasti itu sekaligus menyimpan satu petunjuk kecil yang layak diluruskan dengan santun. Nama yang terpahat di marmer itu adalah Wisma Guru Yogyakarta, bukan Gedung Guru. Sebutan Gedung Guru tentu tidak salah dalam pengertian sehari-hari, sebab ia lahir dari kebiasaan orang menyebut bangunannya, dan para guru yang datang silih berganti pun memakainya dengan penuh rasa memiliki. Namun nama yang diberikan sejak awal, dan yang tercatat dalam batu, adalah Wisma. Kata itu membawa makna yang lebih luas daripada sekadar gedung: sebuah tempat singgah, tempat berkumpul, sekaligus rumah bagi tamu yang datang dari jauh. Mengembalikan nama itu pada tempatnya bukan soal mengoreksi kebiasaan, melainkan cara menghormati niat para pendiri dan semangat yang melatarinya.

Untuk memahami mengapa bangunan ini berdiri, kita perlu menengok dekade 1980-an dan 1990-an, ketika organisasi guru, terutama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), mendorong gagasan agar setiap daerah memiliki pusat kegiatan bagi para pendidik. Pusat itu dibayangkan sebagai tempat bertemu dan bermusyawarah, tempat berlatih dan belajar, tempat guru dari luar daerah bisa menginap, sekaligus sekretariat organisasi dan pusat pengembangan profesi. Semangat itu sejalan dengan jiwa Keppres tadi. Pertimbangannya menyebut bahwa guru memegang kedudukan dan peran sangat penting dalam pembangunan nasional, terutama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Wisma Guru Yogyakarta kemungkinan besar lahir dari suasana itu. Kata “kemungkinan” sengaja dipakai, karena hingga kini belum ada arsip digital yang menyebut secara rinci siapa penggagas awalnya, dari mana dananya, atau siapa saja panitia pembangunannya. Sejarah tidak selalu meninggalkan jejak yang lengkap, dan sebagian kisahnya masih menunggu untuk ditemukan.

Pada hari peresmian itu, Sri Sultan Hamengku Buwono X berdiri sebagai peresmi. Beliau dinobatkan secara resmi sebagai Sultan pada 7 Maret 1989 menggantikan ayahnya, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang wafat pada Oktober 1988, dan mulai menjabat Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta pada 3 Oktober 1998. Jadi pada 1996 beliau sudah tujuh tahun bertakhta sebagai raja, dan dua tahun kemudian memangku jabatan gubernur. Kehadiran seorang raja yang juga aktif dalam pembangunan sosial di acara itu menunjukkan penghargaan bagi dunia pendidikan. Penghargaan semacam ini bukan hal baru di Yogyakarta. Sejak masa Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Kasultanan dikenal memberi perhatian besar pada pendidikan, dan kota ini tumbuh menjadi kota pelajar. Peresmian itu dapat dibaca sebagai kelanjutan dari tradisi panjang tersebut.

Setelah diresmikan, Wisma Guru tidak lama dibiarkan sepi. Rapat organisasi guru digelar di sana, begitu pula seminar, lokakarya, serta pendidikan dan pelatihan guru. Peserta kegiatan dari berbagai daerah menginap di kamar-kamarnya, dan forum seperti MGMP, MKKS, dan KKKS akrab dengan ruang-ruangnya. Di masa ketika hotel dan gedung pertemuan modern belum sebanyak sekarang, tempat seperti ini menjadi simpul penting. Di situlah guru bertukar pengalaman, menyusun gagasan, dan saling menguatkan, dari rapat resmi hingga obrolan ringan di teras penginapan. Hubungan antarguru terjalin dan semangat profesi dirawat dari percakapan-percakapan kecil semacam itu.

Karena itulah prasasti di dinding lobi tadi menyimpan lebih dari sekadar tanggal. Ia menandai berdirinya fasilitas penting bagi komunitas guru, komitmen pemerintah daerah dan organisasi guru untuk meningkatkan profesionalisme pendidik pada dekade 1990-an, serta keterlibatan langsung seorang pemimpin Yogyakarta dalam pengembangan sarana pendidikan. Namun sebuah prasasti pada akhirnya hanyalah batu. Yang memberinya makna adalah apa yang dikerjakan orang di sekitarnya sesudah hari peresmian, dan setiap guru yang hari ini melangkah masuk melewati lobi itu ikut menyambungnya.

Hampir tiga dekade telah berlalu sejak hari itu. Guru masa kini menghadapi tantangan yang tidak terbayangkan pada 1996, mulai dari pembelajaran digital dan kecerdasan buatan hingga kurikulum yang terus bergerak dan murid yang tumbuh bersama gawai. Di tengah semua perubahan itu, harapan bagi guru Daerah Istimewa Yogyakarta tetap sederhana. Semoga mereka terus memiliki ruang untuk bertemu dan belajar bersama, baik di rumah bernama Wisma Guru maupun di ruang daring, sebab perubahan tidak bisa dihadapi sendirian dan komunitas seperti MGMP serta MKKS adalah tempat paling alami untuk saling menopang. Semoga pelatihan yang mereka terima benar-benar menjawab kebutuhan di kelas, sehingga guru merasa dibekali dan tidak dibebani. Semoga kesejahteraan dan perlindungan bagi mereka semakin terjamin, karena guru yang dihargai akan mengajar dengan tenang dan sepenuh hati.

Harapan terakhir menyangkut sejarah itu sendiri. Siapa penggagas Wisma Guru, siapa yang membangunnya, dan bagaimana suasana peresmian tahun 1996 masih bisa ditelusuri lewat arsip PGRI DIY, Dinas Pendidikan DIY, serta surat kabar lokal seperti Kedaulatan Rakyat dan Bernas edisi November 1996. Dokumentasi yang rapi adalah cara terbaik menghormati mereka yang telah lebih dulu bekerja. Dengan begitu, semangat yang pernah membuat pemerintah, tokoh masyarakat, dan organisasi guru bersepakat membangun sebuah rumah bagi para pendidik tidak berhenti di batu prasasti, tetapi terus hidup di ruang kelas, di ruang rapat, dan di setiap tempat guru saling belajar.

Footer Image

Jln. Tentara Rakyat Mataram, Badran JT 1/704, Bumijo, Jetis, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta 55231 Telp/HP: (0274) 548838

Badan Usaha Milik PGRI DIY

Logo CV Widyatama Mulya
Instagram IconYoutube Icon

Hak Cipta © 2026 Persatuan Guru Republik Indonesia DIY